Home » , , » Cara Mengatasi Gempa

Cara Mengatasi Gempa

Belum selesai pemulihan akibat dampak gempa dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Aceh, kembali gempa terjadi lagi di kawasan Nias. Provinsi Sumatera Utara serta Simeulue dan Singkil, Provinsi NAD. Gempa terjadi dengan kekuatan 8,7 pada Skala Richter. Bila kita bandingkan dengan dampak yang ditimbulkannya, maka gempa dengan kekuatan lebih besar dari 8 Skala Richter merupakan gempa yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada beberapa daerah dengan jangkauan 100 km.

Bila ditransformasikan dengan energi TN, maka gempa dengan kekuatan 8,7 pada Skala Richter adalah ekuivalen dengan kekuatan lebih dari 12 miliar ton TNT dan kejadian gempa yang menimbulkan tsunami di Aceh 26 Desember 2004 dengan kekuatan 8,9 Skala Richter adalah lebih dari 24 miliar ton TNT (atau dua kali kekuatan energi TNT dari gempa di kawasan Nias).

Dengan kekuatan yang sebesar itu tetap menimbulkan pertanyaan, karena gempa di kawasan Nias dengan pusatnya di laut tidak menimbulkan tsunami. Padahal beberapa persyaratan untuk timbulnya tsunami ada pada kejadian gempa tersebut, yaitu lokasi di laut, kekuatan sangat besar, deformasi juga terjadi. Namun kejadian ini tidak menimbulkan gangguan yang signifikan di muka air laut yang bisa menimbulkan tsunami.

Tsunami berasal dari kata Jepang "tsu" pelabuhan/laut dan "nami" berarti gelombang. US Army Corps of Engineers mendefinisikan tsunami sebagai gelombang laut gravitasi periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan seperti gempa, longsor, letusan gunung berapi, dan exploisons di dekat muka air laut.

Gelombang tsunami terbentuk oleh gerakan patahan, longsor, jatuhnya benda-benda langit (meteor) maupun aktivitas gunung api di bawah laut. Istilah tsunami ini jadi populer untuk membedakan dengan gelombang-gelombang yang umum terjadi.


Tsunami terjadi di perairan dalam laut lepas dan bergerak menuju ke perairan dangkal dekat pantai. Perubahan energi tsunami yang tergantung pada kecepatan gelombang dan tinggi gelombang adalah hampir konstan. Konsekuensinya. pengurangan kecepatan tsunami juga hampir konstan pada saat menuju perairan dangkal, sehingga energi tsunami terasa semakin bertambah besar di perairan dangkal. Karena pengaruh shoaling, tsunami tidak terasa/kelihatan di laut, tetapi dapat menjadi beberapa meter atau lebih tinggi di dekat pantai. Ketika mencapai pantai, tsunami dapat menimbulkan gelombang jatuh atau gelombang naik yang sangat cepat, yang merupakan rangkaian gelombang penghancur.

Dengan kata lain, gelombang dengan ketinggian hanya 2 meter (misalnya) di laut, namun kecepatannya bisa mencapai lebih dari 800 km per jam ketika mencapai pantai, kecepatannya akan sangat berkurang, namun tinggi gelombang akan menjadi puluhan meter. Ketinggian gelombang inilah yang menimbulkan kerusakan dahsyat di pantai.

Tsunami dapat diakibatkan oleh berbagai hal yang menyebabkan pemindahan massa air yang sangat besar dari kondisi equilibriumnya (seimbang).

Pada beberapa kasus tsunami yang pernah terjadi, penyebabnya adalah gempa bumi, kenaikan kolom air atau penurunan dasar laut, dan atau longsoran submarine. Pada umumnya, letusan gunung berapi yang hebat pada daerah pesisir (submarine) dapat juga menimbulkan kekuatan impulsif yang menaikkan kolom air dan mengakibatkan tsunami. Sebaliknya. gerakan tanah pada supermarine dan pengaruh tabrakan kosmik (seperti meteor) mengganggu air dari sisi atas, seperti momentum jatuhnya runtuhan benda-benda ke dalam air.

Proses Gempa

Tsunami timbul ketika dasar laut dengan tiba-tiba berubah bentuk dan air di atasnya berpindah secara vertikal. Gempa bumi tektonik merupakan bagian jenis gempa bumi yang diasosiasikan dengan kerusakan bentuk kulit bumi: ketika gempa bumi terjadi di bawah laut, massa air di atas pusat gempa berpindah atau bergeser dari posisi seimbang.

Perpindahan atau pergeseran massa air ini (dengan pengaruh gravitasi) berupaya untuk memperoleh kembali posisi seimbang) inilah yang menimbulkan gelombang tsunami.

Dengan kata lain, apabila sebagian besar daerah di dasar laut naik atau turun, maka tsunami dapat tercipta.

Le Pichon, seorang pakar geologi membagi lapisan bumi menjadi tiga belas lempeng (plate) dengan enam lempeng utama, yaitu Eurasia, Pasifik, Amerika. Indo Australia, Antartika dan Afrika. Naik atau turunnya dasar laut biasanya terjadi pada batas-batas lempeng tersebut. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dengan tidak teratur, sehingga menimbulkan tabrakan-tabrakan, sehingga menimbulkan patahan.

Indonesia terletak di antara beberapa Iempeng. Batasan lumpeng yang paling panjang adalah antara lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia yang memanjang mulai dari laut di barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali sampai Pulau-Pulau di Nusa Tenggara. Gerakan-gerakan di perbatasan kedua lempeng tersebut yang sering memicu terjadinya tsunami.

Data Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa mulai tahun 1833 sampai sekarang ada 33 kejadian tsunami di batasan Iempeng ini dengan perincian 15 kejadian di Pulau Sumatera, 8 kejadian di Pulau Jawa dan 10 kejadian ada di pulau-pulau Bali ke timur. Di Sulawesi. Maluku dan Papua ada 34 kejadian tsunami.

Di Pulau Jawa, paling akhir terjadi tsunami adalah pada tahun 1994 di Banyuwangi, Jawa Timur dengan jumlah korban tewas 238 dan 400 luka-luka. Di Jawa Tengah, tiga kali kejadian terletak laut di kawasan Cilacap, yaitu tahun 1840. 1904 dan 1957.

Oleh karena itu, pengelolaan bencana tsunami di pantai-pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa sangat direkomendasikan untuk segera dilakukan.

Sedangkan untuk gempa yang terjadi di seluruh lndonesia yang tercatat di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral adalah sebanyak 99 kejadian.

Upaya Penyelamatan

Beberapa hal tentang tsunami dan bagaimana kita melakukan upaya penyelamatan akan datangnya tsunami diinformasikan oleh http://www.geophys.washington.edu/ tsunami.

Tsunami yang biasanya terjadi di Pantai Barat Sumatera dan pantai selatan Jawa sebagian besar selalu disebabkan oleh gempa di laut. Beberapa kejadian tsunami bisa jadi sangat besar.

Di daerah pantai, tinggi tsunami dapat mencapai 9 m, bahkan untuk kejadian ekstrim bisa mencapai sampai 30 m, dan tsunami dapat masuk ke daratan beberapa ratus meter sampai beberapa kilometer. Semua daerah pantai rendah sangat potensial untuk diterjang tsunami.

Tsunami terdiri dari beberapa gelombang. Terkadang gelombang pertama mungkin tidak besar, namun disusul dengan gelombang-gelombang yang lebih besar. Bahaya dari tsunami bisa terjadi hanya dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah kedatangan gelombang pertama.

Ketika mencapai pantai, gelombang tsunami dapat bergerak lebih cepat daripada orang berlari. Sering terjadi tsunami menyebabkan air di dekat pantai surut dengan cepat, sehingga dasar laut bisa terlihat. Hal ini merupakan salah satu tanda alam akan datangnva tsunami.

Kekuatan beberapa tsunami sangatlah hebat. Bebatuan besar seberat beberapa ton, kapal-kapal dan reruntuhan lainnya dapat bergerak ke daratan beberapa ratus kaki oleh aktivitas gelombang tsunami. Rumah-rumah dan bangunan lainnya hancur. Semua benda-benda dan air bergerak dengan kekuatan besar dan dapat membunuh atau melukai orang-orang. Tsunami dapat melalui sungai dan anak sungai yang menuju ke lautan.

Bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di pantai perlu mengetahui tanda-tanda akan datangnya tsunami dan upaya penyelamatan. Bila merasakan goncangan bumi, maka segera pergi ke tanah yang lebih tinggi. Jangan menunggu peringatan tsunami diumumkan. Dengan segera menjauhi sungai dan anak sungai yang menuju ke laut sama seperti menjauhi dari pantai dan laut jika ada tsunami. Tsunami dari gempa lokal dapat terjadi di wilayah sekitarnya sebelum peringatan tsunami diumumkan.

Mengingat batas lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia di terletak di laut barat Sumatera dan selatan Pulau Jawa hanya beberapa ratus kilometer jaraknya ke pantai dan kecepatan gelombang tsunami bisa mencapai lebih dari 800 km/jam, maka rentang waktu terjadi gempa di laut dan tsunami yang ditimbulkannya hanya dalam hitungan menit. Tsunami yang terjadi di Aceh hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk mencapai pantai setelah gempa terjadi.

Melihat kejadian di Aceh dan di Nias, maka sudah selayaknya kita belajar untuk bersahabat dengan alam dan berupaya untuk memecahkan misteri-misteri alam, terutama terhadap kejadian gempa dan tsunami. Kita wajib untuk terus menerus mencari tanda-tanda alam karena kita bagian dari alam. Sehingga ke depan, kita bangsa Indonesia, yang memang ditakdirkan untuk hidup di tengah-tengah hampir semua bencana mampu untuk dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat suatu bencana terjadi.

Penanaman bakau sepanjang pantai sebagai salah satu upaya memperkecil dampak kerusakan tsunami perlu digalakkan karena bisa sebagai penghalang. Tanaman bakau dapat mengurangi tinggi gelombang menjadi setengah dari tinggi gelombang tanpa ada tanaman bakau. Pengelolaan Zona Pantai Terpadu sudah saatnya dilakukan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membuat semacam pedoman untuk pengelolaan bencana nanum hanya untuk bencana-bencana banjir, kekeringan, longsor dan tsunami. Pengelolaan untuk bencana-bencana lainnya seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan perlu juga dibuat dan disosialisasikan ke semua lapisan masyarakat.

Robert J Kodoatie. pengajar Jurusan Teknik Sipil FT Undip

1 comments: